Sekilas Film Joker Benarkah Dapat Berbahaya?
Author
Cak Lihat
Date
16 Nov 2019
Views
79

Kesintingan sang badut tak pernah dijelaskan dengan proporsional. Apa yang membentuknya menjadi manusia jahat? Perdebatan mengenai sifat dasar manusia sudah menjadi bahasan para filsuf dunia selama beberapa abad. Aristoteles berpendapat bahwa moralitas terbentuk lewat proses pembelajaran, dan manusia lahir sebagai makhluk amoral, sementara Sigmund Freud mengibaratkan manusia yang baru lahir sebagai kertas putih.

Ia bercita-cita menjadi stand-up comedian meski tahu punya penyakit saraf yang membuatnya tertawa tak terkontrol. Tawa, bagi banyak orang, adalah ekspresi kebahagiaan. Sementara bagi Joker, tiap tawa adalah rasa sakit dan penderitaan. Ia masih semangat menulis materi komedi di buku catatannya, meski semua orang tak tertawa dengan leluconnya. Bahkan ibunya sendiri yang ia sayangi dan rawat dengan telaten menyebutnya tak berbakat melucu.

Di Amerika Utara, "Joker" mengalahkan "Venom" yang dirilis pada 2018. Film yang dibintangi oleh Tom Hardy itu hanya menghasilkan 80,3 juta dolar AS untuk wilayah domestik, demikian laporan The Hollywood Reporter, Senin. Perolehan film yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix itu menempatkannya sebagai film berperingkat R-Rated terbaik sepanjang masa dan film terbesar kelima sepanjang 2019.

Jika dibandingkan dengan "Venom" yang meraih 127,2 juta dolar untuk penghasilan global, "Joker" jauh melampauinya. Di Korea Selatan saja, film yang menceritakan kehidupan Arthur Fleck itu mendapat 16,3 juta dolar AS dan wilayah Asia lain termasuk Jepang meraih tujuh juta dolar AS.



0 Comments

We'll never share your email with anyone else.




pt>